Faktor Penyebab Anak Menjadi Penakut dan Cara Mengatasinya
Faktor Penyebab Anak Menjadi Penakut dan Cara Mengatasinya merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 2 Jumadil Awal 1448 H / 13 Oktober 2026 M.
Kajian Tentang Faktor Penyebab Anak Menjadi Penakut
Faktor-faktor yang menimbulkan sifat penakut pada anak meliputi:
Kebiasaan Menakut-nakuti Anak
Kebiasaan menakut-nakuti anak dengan orang tertentu, kegelapan, atau hal yang diistilahkan sebagai hantu, bayangan, dan lain-lain harus dihindari. Orang tua terkadang melakukan hal tersebut agar anak menjadi nurut. Hal ini memberikan dampak yang sangat buruk pada anak, yaitu menjadikannya berjiwa pengecut dan penakut, serta menjadi beban baginya kelak. Terdapat anak yang takut kegelapan sehingga ketika harus dipisah kamar menjadi tidak mau, takut dengan manusia karena ditakut-nakuti orang yang dianggap seram atau horor, atau takut dengan mitos-mitos yang beredar tentang hantu dan lain sebagainya.
Memanjakan dan Mendikte Anak secara Berlebihan
Sifat penakut dapat muncul karena kebiasaan orang tua memanjakan dan mendikte anak secara berlebihan. Pemanjaan secara berlebihan ini akan menumbuhkan sifat penakut pada anak, sehingga ia takut segalanya, takut mencoba, takut mengambil keputusan, takut bersikap, dan lain sebagainya, hingga menjadi anak yang bermental lemah.
Kebiasaan memanjakan anak kadang-kadang menjadi bumerang dan tidak baik bagi anak. Bukan berarti anak tidak perlu disayang, tetapi pemanjaan yang berlebihan bernilai buruk. Orang tua memanjakan anak jelas karena rasa sayang, tetapi memanjakan dengan cara yang salah atau berlebihan justru menjadi bumerang bagi anak tersebut.
Membiarkan Anak Terbiasa Menyendiri
Membiarkan anak terbiasa menyendiri dapat menjadikannya sebagai anak yang kerdil jiwanya, menjadi seorang yang introvert, serta cenderung penakut untuk berhadapan dengan manusia dan masalah. Hal ini menyebabkan anak berjiwa minder dan tidak percaya diri untuk menghadapi berbagai persoalan hidup.
Anak memang harus dilatih untuk menghadapi berbagai hal dalam hidup, termasuk masalah, tantangan, dan sejenisnya. Dalam mengamalkan agama, seseorang pasti akan mendapatkan celaan atau perlakuan yang tidak enak dari manusia karena hal tersebut sudah merupakan ketetapan. Anak harus siap menghadapi tekanan-tekanan tersebut. Jika tidak, ia akan menjadi anak yang berjiwa kerdil, pengecut, dan tidak berani mengambil risiko, yang merupakan dampak terburuk dari sifat penakut.
Anak yang berjiwa lemah cenderung mengikuti arus orang banyak atau latah, tidak punya pendirian, serta tidak berani bersikap. Hal tersebut pada hakikatnya merupakan sifat pengecut pada anak, sehingga ia kurang percaya diri untuk menampilkan syiar-syiar agama dan mengamalkan nilai-nilai Islam karena dikhawatirkan mendapat celaan dari manusia.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam mula-mula tampak asing dan akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Melawan arus tentu memerlukan keberanian. Seorang yang berjiwa pengecut dan penakut pasti tidak akan mau melawan arus dan cenderung mengikuti arus yang ada tanpa memiliki pendirian. Inilah sifat pengecut yang hakiki. Anak perlu dilatih untuk memiliki kekuatan mental dan kepercayaan diri agar mampu tampil beda serta berhadapan dengan lingkungan yang mungkin tidak sejalan dengannya.
Jika hal tersebut sudah terasah dan terlatih sejak kecil, anak akan memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk menampilkan syariat dalam kehidupannya. Banyak anak zaman sekarang yang dengan mudah mengikuti arus, tren, serta hal yang viral tanpa mempunyai keberanian untuk melawan arus. Sementara itu, syariat Islam pasti melawan arus karena bertentangan dengan selera manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang-orang yang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. Al-An’am[6]: 116)
Untuk melawan arus tersebut, diperlukan keberanian. Jika tidak memilikinya, kemungkinan besar anak hanya akan bersikap latah.
Dampak Buruk Cerita Horor dan Menakutkan bagi Anak
Cerita-cerita horor tidak perlu disampaikan kepada anak. Cerita horor di sini bukan hanya tentang hantu, melainkan kisah-kisah yang menimbulkan rasa panik, cemas, dan takut pada anak dalam menjalani kehidupan. Cerita kegagalan yang bermaksud menimbulkan kepanikan tidak boleh disebarkan karena terdapat etika dan adab dalam menyampaikan berita atau cerita.
Apabila orang tua terlalu sering mengobral cerita menakutkan kepada anak, hal tersebut dapat memicu ketakutan berlebihan terhadap ketinggian, kegelapan, dan berbagai hal lainnya akibat trauma mendengar cerita tersebut. Oleh karena itu, cerita-cerita yang menakutkan dan menimbulkan trauma harus dihindari agar keberanian anak dapat tumbuh dengan baik.
Cerita yang menakutkan, ngeri, atau horor dapat berdampak buruk pada psikologis anak. Sebagai contoh, anak yang terus-menerus mengarkan cerita tentang orang tenggelam akan merasa takut melihat air hingga tidak memiliki minat sama sekali untuk belajar berenang. Padahal, berenang merupakan salah satu keterampilan yang penting untuk diajarkan kepada anak.
Jika anak terlanjur takut melihat air, ia tidak akan mampu belajar berenang sampai kapan pun. Oleh karena itu, orang tua harus memilih cerita-cerita yang bermanfaat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Qur’an mengenai sebaik-baik kisah yang cukup untuk diambil ibrah atau pelajarannya.
Anak yang sering ditakut-takuti dalam menghadapi kehidupan akan menjadi ragu-ragu, tidak memiliki rasa optimis, bersikap pesimis, serta tidak berani mengambil sikap. Sebaliknya, orang tua harus memberikan cerita-cerita yang dapat menambah motivasi. Al-Qur’an sendiri berisi banyak motivasi untuk merangsang kemauan, bukan justru membuat seseorang menjadi lemah dan tidak memiliki keinginan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, termasuk di dalamnya adalah lemah mental, tidak memiliki motivasi yang kuat, dan mudah menyerah.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا…
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah…” (QS. An-Nisa`[4]: 9)
Mendidik Anak dengan Iman dan Tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Untuk mengatasi berbagai masalah mental pada anak, didiklah sejak kecil dengan keimanan dan hubungan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana teladan yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi)
Pelajaran sederhana tersebut memberikan pengaruh besar kepada jiwa anak agar memiliki hubungan yang kuat dengan Sang Pencipta, sehingga ia tidak merasa takut ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersamanya. Anak perlu dilatih untuk bertawakal dan berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta meyakini janji-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad[47]: 7)
Sebagian orang merasa takut untuk berinfak karena khawatir hartanya akan habis. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyampaikan dalam hadits qudsi:
أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
“Berinfaklah, niscaya Aku akan memberikan infak (rezeki) kepada kamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ajaran ini diberikan agar manusia tidak merasa takut dalam bersedekah dan berbuat baik, serta memiliki mental yang kuat. Terlalu khawatir dengan masa depan merupakan salah satu sindrom yang berbahaya dan harus dihindari.
Kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan dapat menghambat langkah seseorang dan menjadi sindrom yang berbahaya. Salah satu contoh nyata adalah kondisi yang menimpa masyarakat Arab Jahiliyah pada masa lalu. Karena mengkhawatirkan masa depan anak perempuan yang dianggap lemah, mereka tega mengubur anak perempuan tersebut hidup-hidup. Tindakan tersebut didasari oleh kekhawatiran yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Oleh karena itu, rasa takut berlebihan tersebut harus dilawan dengan menanamkan rasa optimis kepada anak.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَاسْتَعِينُ باللهِ وَلاَ تَعْجِزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah.” (HR. Muslim)
Sikap mental yang kuat dan keberanian harus ditanamkan kepada anak sejak kecil agar menjadi pribadi yang berani dalam menghadapi kehidupan. Orang-orang yang beriman tidak pernah takut menghadapi celaan manusia dalam menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:
لَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ
“Mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 54)
Sebagian orang terkadang sudah mundur bahkan sebelum mendapat teror atau intimidasi fisik, cukup dengan tekanan verbal atau rasa takut dijauhi orang lain karena menjaga nilai-nilai agama. Ada pula yang langsung melepas identitas keagamaannya hanya karena mendapat gertakan kehilangan pekerjaan. Sikap tersebut mencerminkan jiwa yang penakut.
Bagaimana kajian lengkapnya? Mari download dan simak kajian yang penuh manfaat ini.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Faktor Penyebab Anak Menjadi Penakut dan Cara Mengatasinya” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56644-faktor-penyebab-anak-menjadi-penakut-dan-cara-mengatasinya/